Lolos Sertifikasi Tidak Sulit

Haris: Asal Para Guru Paham Format Penilaian

SURABAYA – Lolos sertifikasi itu mudah. Asalkan, para guru tahu caranya. Yang utama, tahu format penilaian dalam sertifikasi.

Menurut Rektor Unesa Haris Supratno, ada tiga poin penting dalam sertifikasi. Masing-masing poin tersebut punya nilai minimum. Kalaupun seorang peserta unggul di poin A dan B, dia akan tetap gagal bila nilai poin C kurang dari minimum.

”Misalnya, peserta mendapatkan angka lebih dari 2.000 di dua poin pertama. Kalau poin C nol, dia tetap tidak lolos,” ujarnya. Untuk bisa lolos, kata dia, seorang peserta membutuhkan nilai minimum 850.

Pada poin A, kata Haris, ada tiga unsur yang harus diperhatikan. Yang pertama adalah kualifikasi akademik. Termasuk, penilaian terhadap ijazah yang dimiliki. Unsur kedua adalah pengalaman mengajar dan yang terakhir penilaian RPP.

Untuk poin A itu, nilai minimal yang dibutuhkan adalah 400, dengan nilai RPP minimal 120. ”Jika nilai poin A kurang dari itu, kalaupun nilai untuk dua poin berikutnya di atas minimal, peserta tetap tidak lolos,” jelas Haris.

Poin B meliputi pendidikan dan pelatihan, penilaian atasan langsung, prestasi akademik, serta pengembangan profesi. Unsur pendidikan dan pelatihan meliputi berapa banyak diklat, workshop, seminar, serta pelatihan yang diikuti. Pembuatan bahan ajar, pembuatan PTK, KTI, menulis buku, serta pembuatan dan penggunaan media pembelajaran bisa dimasukkan unsur pengembangan profesi.

Prestasi akademik bisa berupa kemenangan dalam lomba atau menjadi pembina siswanya yang menang lomba. Untuk poin B itu, nilai minimal yang harus dimiliki peserta adalah 300.

Karena itu, Haris menyarankan agar para guru lebih sering membuat bahan ajar dan penelitian ilmiah. Makin banyak penelitian yang dibuat, kian tinggi nilainya. Dia menegaskan, para guru tidak perlu takut bertanya bila menghadapi kesulitan saat pertama membuat karya ilmiah. Mereka bisa bertanya kepada guru-guru yang sering melakukan.

Poin C atau poin ketiga meliputi keikutsertaan dalam forum ilmiah, pengalaman organisasi di bidang pendidikan dan sosial, serta penghargaan di bidang akademik. Yang dimaksud penghargaan di sini bukan sekadar sertifikat bertulisan penghargaan, melainkan semacam penghargaan Satya Lencana atau penugasan di tempat terpencil. Yang termasuk pengalaman organisasi adalah menjadi pengurus, bukan hanya menjadi anggota. Nilai minimal yang dibutuhkan untuk poin ketiga itu adalah 1 (satu).

”Maksudnya, guru yang ikut sertifikasi minimal harus pernah sekali mengikuti forum ilmiah atau menjadi pengurus organisasi. Pengalaman organisasi dan lainnya harus dibuktikan dengan SK, tidak sekadar klaim,” tegasnya.

Haris menuturkan, pendidikan dan pelatihan dihitung berdasar jumlah jam pelatihan. Jumlah jam menentukan skor yang diperoleh. Skala pelatihan juga memengaruhi skor. Pelatihan tingkat provinsi atau nasional lebih tinggi daripada tingkat kabupaten. ”Unsur-unsur dalam penilaian ini harus dipahami benar oleh guru-guru peserta sertifikasi sebelum membuat portofolio,” ujarnya.

Meski penilaian sangat ketat, Haris mengimbau agar para guru mempertahankan kejujuran. Jangan ada lagi guru yang ketahuan memalsukan sertifikat atau menjiplak karya ilmiah teman. Selain bisa didiskualifikasi jika ketahuan, nama guru sebagai pendidik bakal tercoreng. ”Lebih baik gagal portofolio dan ikut diklat daripada melakukan kecurangan,” tandasnya. (sha/soe)

Sumber : (http://www.jawapos.co.id/ [ Rabu, 14 Januari 2009 ])

Satu Tanggapan

  1. ada peningkatan ! good!
    selanjutnya bagaimana cara mempertahankannya !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: